Viral Tik-tok! Puluhan Oknum Staf Dinkes Halsel Diduga Rendahkan Pasien Jiwa, Publik Murka
Screenshot
HALSEL, Harian-Timur.com Sebuah video TikTok yang diduga dibuat oleh puluhan oknum staf Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan mendadak viral dan memicu gelombang kritik dari masyarakat. Dalam video tersebut, terdengar narasi yang dinilai tidak sensitif terhadap isu kesehatan mental, yakni ungkapan bahwa “jangan menilai dari luar, seperti rumah sakit jiwa, luarnya bagus, dalamnya orang gila semua.”
Pernyataan tersebut sontak menuai reaksi keras. Banyak warga menilai bahwa narasi tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga berpotensi memperkuat stigma negatif terhadap pasien dengan gangguan kejiwaan. Padahal, dalam dunia medis, rumah sakit jiwa bukan sekadar tempat bagi “orang gila” sebagaimana stigma lama yang berkembang di masyarakat.
Sejumlah pemerhati kesehatan menegaskan bahwa rumah sakit jiwa merupakan fasilitas layanan kesehatan yang menangani beragam kondisi, mulai dari depresi, kecemasan, gangguan bipolar, hingga skizofrenia. Bahkan, banyak pasien yang menjalani perawatan justru dalam kondisi sadar dan membutuhkan dukungan psikologis, bukan cemoohan atau stereotip.
“Ini bukan sekadar masalah konten hiburan. Ketika seorang pegawai instansi kesehatan ikut menyebarkan narasi seperti itu, dampaknya bisa jauh lebih luas. Masyarakat bisa salah paham, bahkan memperlambat upaya edukasi yang selama ini dibangun,” ujar salah satu warga yang ikut mengkritisi video tersebut.
Gelombang protes juga mengarah pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan. Warga mendesak Bupati Halsel Hasan Ali Bassam kasuba agar segera mengambil langkah tegas, termasuk memberikan pembinaan kepada aparatur sipil negara (ASN), khususnya yang berada di sektor kesehatan, agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
Menurut warga, kepada media ini kamis (9/04/2026) mengatakan ASN di lingkungan dinas kesehatan seharusnya menjadi garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, bukan justru memperkuat stigma. Terlebih, pasien dengan gangguan mental termasuk kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan, empati, dan pendekatan yang manusiawi.
“Pasien kejiwaan itu bukan bahan candaan. Mereka butuh dukungan. Kalau dari petugas kesehatan saja sudah memberi contoh yang tidak baik, bagaimana masyarakat mau berubah?” kata warga lainnya.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa literasi digital di kalangan ASN masih perlu ditingkatkan. Di era media sosial yang serba cepat, satu unggahan bisa berdampak luas dan membentuk opini publik dalam waktu singkat.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Dinas Kesehatan Halmahera Selatan terkait video tersebut. Namun tekanan publik terus menguat agar ada klarifikasi sekaligus langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Kasus ini membuka kembali diskursus penting tentang bagaimana isu kesehatan mental diperlakukan di ruang publik.
Edukasi yang tepat, bahasa yang empatik, serta sikap profesional dari tenaga kesehatan menjadi kunci dalam menghapus stigma yang selama ini melekat.
Jika tidak segera ditangani dengan serius, bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan akan ikut tergerus. Dan pada akhirnya, yang paling dirugikan adalah para pasien yang seharusnya dilindungi, bukan dijadikan objek narasi yang menyesatkan. (Jul)






