Pendidikan Bukan Sekadar Gelar: Jangan Rendahkan Pengetahuan Demi Perbedaan Pendapat

bee0e377-f3f6-4778-bd12-2c65214937fd

HALSEL, Harian-Timur.com Pendidikan tinggi kerap dipandang sebelah mata, bahkan tidak jarang diremehkan ketika berhadapan dengan kepentingan dan kekuasaan. Padahal, bagi banyak orang, pendidikan merupakan salah satu jalan penting untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak.

Pendidikan bukan sekadar gelar, status sosial, ataupun simbol kepintaran. Pendidikan adalah perjalanan panjang untuk mencari ilmu, membuka peluang, memperoleh pekerjaan, membangun kemampuan berpikir, serta menyiapkan masa depan yang lebih baik.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, 18 September 2026, kemudian mengundang perhatian publik. Dalam kesempatan tersebut, ketika menyinggung para pakar yang menurutnya telah menyampaikan kritik yang berubah menjadi fitnah, Presiden mengatakan:

“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya, jadi goblok.”

Pernyataan tersebut menjadi bahan perbincangan, bukan semata-mata karena adanya perbedaan pandangan antara pemerintah dan para pengkritiknya, tetapi juga karena pilihan kata yang digunakan dalam menyampaikan respons terhadap kritik.

Perbedaan pendapat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokratis. Kritik terhadap kebijakan maupun pandangan seorang pemimpin adalah hal yang wajar. Begitu pula sebaliknya, seorang pemimpin memiliki hak untuk memberikan bantahan terhadap kritik yang dianggap tidak benar.

Namun, cara menyampaikan perbedaan pendapat juga memiliki arti penting.

Kritik dapat disampaikan secara tegas tanpa harus merendahkan martabat orang lain. Gagasan dapat dibantah dengan data, argumentasi, dan fakta tanpa harus menyerang pribadi orang yang menyampaikannya.

Sebab, ketika sebuah gagasan diperdebatkan, yang semestinya diuji adalah isi gagasan tersebut: apakah benar, apakah memiliki dasar, apakah didukung data, dan apakah relevan dengan persoalan yang sedang dibahas.

Mempertanyakan pendapat seorang pakar tentu bukan sebuah kesalahan. Pakar juga manusia yang dapat keliru. Pendapat seorang akademisi bukan kebenaran mutlak yang tidak boleh dikritik. Justru ilmu pengetahuan berkembang karena adanya perdebatan, penelitian, pengujian, koreksi, dan keterbukaan terhadap kemungkinan bahwa sebuah pandangan dapat diperbaiki.

Namun, ketika perdebatan mengenai gagasan bergeser menjadi penggunaan kata-kata yang merendahkan orang yang menyampaikan gagasan tersebut, persoalannya menjadi berbeda.

Pertanyaan sederhananya: apakah yang sedang dibantah adalah gagasannya, atau orangnya?

Di balik seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan dan keahlian tertentu, terdapat proses panjang yang tidak selalu terlihat. Ada tahun-tahun yang dihabiskan untuk belajar, membaca, melakukan penelitian, berdiskusi, mengumpulkan data, menyusun argumentasi, serta membangun pengalaman.

Tetapi proses tersebut juga tidak semestinya dianggap tidak berarti hanya karena pendapatnya berbeda dengan pandangan kita.

Lebih jauh lagi, pendidikan tinggi bukan sesuatu yang dapat dinikmati semua orang dengan mudah.

Bagi sebagian masyarakat, kuliah berarti bekerja sambil belajar. Bagi sebagian lainnya, pendidikan ditempuh melalui beasiswa, hidup jauh dari keluarga, menahan berbagai keterbatasan ekonomi, bahkan harus berjuang bertahun-tahun untuk menyelesaikan pendidikan.

Mereka tidak mengejar pendidikan hanya untuk disebut pintar.

Mereka mengejar pendidikan karena berharap mendapatkan kesempatan yang lebih luas, memperoleh pekerjaan, meningkatkan taraf hidup, membantu keluarga, dan keluar dari keterbatasan.

Karena itu, bagi banyak orang, pendidikan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada selembar ijazah. Pendidikan adalah investasi waktu, tenaga, pikiran, biaya, pengorbanan, dan harapan.

Maka ketika pengetahuan atau orang-orang yang menempuh proses panjang untuk memperoleh pengetahuan diperlakukan secara merendahkan, sebagian masyarakat dapat merasa bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya harga diri seorang pakar, melainkan juga penghargaan terhadap proses belajar itu sendiri.

Kita juga tidak harus selalu sepakat dengan pemerintah, pemimpin, akademisi, maupun kelompok masyarakat tertentu.

Bahkan, perbedaan pendapat merupakan bagian penting dari masyarakat yang sehat. Tanpa perbedaan, tidak ada ruang untuk menguji sebuah kebijakan. Tanpa kritik, kesalahan akan lebih sulit ditemukan. Tanpa pertanyaan, pengetahuan akan berhenti berkembang.

Karena itu, perbedaan seharusnya menjadi ruang untuk saling menguji gagasan, bukan alasan untuk saling merendahkan.

Sistem pendidikan boleh dikritik. Perguruan tinggi boleh dikritik. Akademisi boleh dikritik. Kebijakan pendidikan juga boleh dipertanyakan ketika terdapat persoalan yang memang perlu diperbaiki.

Tetapi mengkritik pendidikan berbeda dengan merendahkan nilai pengetahuan.

Membantah pendapat seseorang berbeda dengan merendahkan proses panjang yang telah ditempuh seseorang untuk memperoleh pengetahuan. Pada akhirnya, pendidikan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling pintar.

Pendidikan adalah proses manusia belajar memahami dunia, berpikir kritis, mempertanyakan sesuatu yang dianggap benar, menguji informasi, dan mencari jalan keluar dari berbagai persoalan kehidupan.

Bagi mereka yang sedang menempuh pendidikan, jalan tersebut mungkin dimulai dari sebuah ruang kelas sederhana, sebuah buku yang dibaca berulang kali, sebuah beasiswa, pekerjaan sambilan, atau perjuangan panjang orang tua untuk membiayai anaknya.

Dan harapan yang dibangun melalui perjuangan panjang itu tentu layak dihargai, meskipun pada akhirnya orang-orang yang berpendidikan dan mereka yang tidak berpendidikan tinggi dapat memiliki pandangan yang berbeda.

Sebab ukuran kecerdasan tidak semestinya ditentukan dari seberapa keras seseorang merendahkan orang lain.

Barangkali, ukuran yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menggunakan pengetahuan yang dimilikinya untuk memahami perbedaan, menghargai orang lain, dan mencari kebenaran melalui argumentasi yang sehat.

Karena pada akhirnya, kita tidak harus menjadi orang yang paling pintar Tetapi kita dapat memilih untuk terus belajar.(red)