Ratusan Warga Soligi Kembali Demo PT Harita Nickel, Tuntut Ganti Rugi Lahan 6,5 Hektar

cfc6b1f9-6991-4700-94f0-3423925fc6be

HALSEL, Harian-Timur.com Ratusan warga Desa Soligi, Kecamatan Obi Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara kembali menggelar aksi demonstrasi di kantor PT Harita Nickel, menuntut kejelasan dan pembayaran ganti rugi atas lahan perkebunan milik warga yang diduga digusur secara sepihak.

Aksi ini dipicu oleh dugaan penyerobotan lahan milik salah satu warga, Alimusu, seluas kurang lebih 6,5 hektar yang di dalamnya terdapat lebih dari 400 pohon cengkeh produktif. Warga menilai, lahan tersebut telah dikuasai oleh anak perusahaan PT Trimega Bangun Persada (TBP) tanpa penyelesaian yang adil.

Dalam orasi mereka, massa aksi menegaskan bahwa perusahaan terkesan lepas tangan dengan alasan bahwa pembayaran telah dilakukan. Namun, klaim tersebut dibantah keras oleh pihak warga yang merasa tidak pernah menerima ganti rugi secara sah.

“Tanah ini milik kami, ada bukti dan saksi. Tapi perusahaan bilang sudah bayar. Bayar ke siapa? Kami tidak pernah terima,” teriak salah satu orator di tengah aksi.

Situasi sempat memanas ketika massa mendesak pihak perusahaan untuk menghadirkan bukti pembayaran yang dimaksud. Ketegangan tak terhindarkan lantaran janji penyelesaian yang sebelumnya disampaikan tak kunjung direalisasikan.

Warga menyebut, lahan tersebut kini digunakan oleh pihak perusahaan untuk kepentingan pembangunan dan perluasan fasilitas, termasuk area penunjang bandara. Namun, dokumen berupa surat jual beli yang dikantongi perusahaan diduga tumpang tindih dengan hak ulayat masyarakat Desa Soligi.

Hingga aksi berlangsung, warga tetap bertahan dan menuntut adanya penyelesaian konkret, transparan, dan berkeadilan. Mereka juga meminta pemerintah daerah serta aparat penegak hukum turun tangan untuk menengahi konflik yang terus berlarut tersebut.

Aksi demonstrasi ini menjadi peringatan keras bagi perusahaan agar tidak mengabaikan hak-hak masyarakat lokal, terutama terkait kepemilikan lahan yang menjadi sumber penghidupan utama warga.

Warga menegaskan, jika tuntutan mereka tidak segera dipenuhi, maka aksi serupa dengan jumlah massa yang lebih besar akan kembali digelar dalam waktu dekat. (Red)