Warga Tubo RT 8 Ternate Masih Krisis Air Bersih, Bergantung pada Air Beli dan Penampungan
Nabil Haji
TERNATE, Harian-Timur.com — Air bersih merupakan kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari. Namun realitas berbeda masih dirasakan warga Kelurahan Tubo RT 8, Kota Ternate, yang hingga kini belum menikmati akses air bersih secara langsung dan berkelanjutan.
Di tengah geliat pembangunan kota dan peningkatan infrastruktur, warga di wilayah tersebut masih harus bergantung pada air beli yang disimpan dalam penampungan atau tandon berkapasitas sekitar 1.200 hingga 2.000 liter untuk memenuhi kebutuhan harian, mulai dari mandi, mencuci, memasak, hingga keperluan sanitasi.
“Kalau pasokan air terlambat atau sulit diperoleh, aktivitas warga langsung terganggu,” ungkap Nabil, salah satu warga Tubo RT 8, kepada Harian-Timur.com, Pasokan Terbatas, Warga Terpaksa Berhemat, Ketergantungan pada penampungan air menunjukkan bahwa akses air bersih di wilayah ini belum tersedia secara memadai. Warga terpaksa mengatur penggunaan air sehemat mungkin agar persediaan mencukupi hingga pasokan berikutnya datang.
Dalam kondisi tertentu, keterbatasan air ini berdampak pada kebersihan lingkungan dan kualitas hidup, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
“Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga soal kesehatan,” jelas Nabil.
Air Bersih sebagai Kebutuhan Dasar
Menurut Nabil, jika dilihat dari perspektif teori kebutuhan dasar, air bersih berada pada level paling fundamental dalam kehidupan manusia. Tanpa ketersediaan air yang cukup dan layak, aktivitas sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat tidak dapat berjalan optimal.
Oleh karena itu, persoalan air bersih bukan semata masalah teknis, melainkan berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
Pelayanan Publik Dinilai Belum Merata
Masalah air bersih di Tubo RT 8 juga mencerminkan tantangan dalam pelayanan publik dasar. Pelayanan yang ideal seharusnya menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata, berkelanjutan, dan berpihak pada kebutuhan warga.
Ketika sebagian masyarakat masih kesulitan mengakses air bersih, hal tersebut menandakan bahwa pelayanan publik belum sepenuhnya menjawab kebutuhan di tingkat akar rumput.
Isu Keadilan Sosial dalam Pembangunan
Persoalan ini juga berkaitan erat dengan keadilan sosial dalam pembangunan. Pembangunan yang adil tidak hanya berfokus pada pusat kota, tetapi juga memastikan wilayah permukiman warga mendapatkan perhatian yang setara,
Ketimpangan akses air bersih yang dialami warga Tubo RT 8 menunjukkan bahwa hasil pembangunan belum dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat Kota Ternate.
Butuh Solusi Berkelanjutan dan Partisipatif
Kondisi ini dinilai perlu menjadi bahan evaluasi bersama bagi pemerintah daerah dan instansi terkait. Persoalan air bersih tidak cukup diatasi dengan solusi sementara, tetapi memerlukan perencanaan matang dan berkelanjutan, seperti, pembangunan jaringan air bersih,
penyediaan sumber air alternatif, atau
sistem distribusi air yang lebih teratur.
Selain itu, partisipasi masyarakat juga dinilai penting, Dalam konsep pembangunan partisipatif, keterlibatan warga dalam perencanaan dan pengambilan keputusan akan menghasilkan solusi yang lebih tepat sasaran.
“Warga Tubo RT 8 memahami kondisi lingkungan mereka. Suara dan pengalaman mereka perlu didengar,” tambah Nabil, Harapan Warga
Air bersih bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup. Selama warga Tubo RT 8 masih bergantung pada penampungan air berkapasitas 1.200 hingga 2.000 liter, persoalan pelayanan dasar dinilai masih membutuhkan perhatian serius.
Warga berharap Pemerintah Kota Ternate dan PDAM dapat menghadirkan solusi nyata agar air bersih mudah diakses secara berkelanjutan.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala PDAM Kota Ternate masih dalam upaya dikonfirmasi terkait persoalan tersebut.
(red)






